Selamat Datang di Website : Jual Mobil Ex Taksi PT. Blue Bird Group - Pool Semarang, Special Price >>> Toyota New Limo Th. 2010 Plat Hitam H "Semarang" OTR Nett 77,5 Juta dan Th. 2011 Plat Hitam B "Jakarta" OTR Nett 82,5 Juta, Contact Person : Bp. Wawan (Setiawan Nugraha) - Sekretaris Pool Blue Bird Semarang / PIC Penjualan Ex Blue Bird Semarang, Pin BB : 54AD537F , Telp. 08222 111 8455 (telkomsel), sms / WA : 085 739 335 978 (Indosat), Instagram : setiawan_nugraha & LINE ID : rnunugraha
Home » » Mitos Mobil di Masyarakat

Mitos Mobil di Masyarakat

Written By rnu nugraha on Minggu, 17 Juni 2012 | 13.18

Mitos Mobil di Masyarakat
Source: kaskus

1. Perlu Memanaskan Mesin Mobil Dahulu Sebelum Jalan
Mesin mobil modern sudah menganut sistem injeksi bahan bakar sehingga pasokan bahan bakar selalu tepat pada setiap kondisi. Termasuk ketika mesin baru dinyalakan. Tidak perlu menunggu lama, satu menit saja cukup kok untuk membuat oli bersirkulasi. Menunggu lebih lama sudah pasti akan memboroskan bahan bakar dan tidak ramah lingkungan. Mengingat, saat suhu dingin asap lebih kotor karena campuran bensin lebih kaya.

2. Tekan Gas Sebelum Mematikan Mesin
Mitos ini merupakan kebiasaan buat mobil jadul. Maksudnya buat mengisi aki biar tidak tekor. Jadi alternator diputar lebih kencang supaya mengisi aki sebelum mesin mati. Mesin masa kini sudah dilengkapi alternator dengan IC voltage regulator. Kebutuhan arus disuplai akurat. Malah aki mobil lebih kecil, karena suplai tegangan alternator sudah bagus Menekan pedal gas sebelum mesin dimatikan juga sangat berbaya bagi “jiwa” dan “raga” mesin. Pertama, raganya akan rusak atau cacat. Pasalnya, ketika gas digeber, putaran mesin naik. Pada kondisi seperti komponen mesin yang berputar atau bergerak membutuhkan pelumas. Boros Bensin dan Oli Nah, dapat dibayangkan, ketika oli sedang menuju ke komponen tersebut, mesin tiba-tiba mati. Pompa oli pun tidak bisa memasok atau mengalirkan oli ke komponen yang bergerak. Misalkan, ke piston, kruk as, nokken as atau klep. Memang masih ada lapisan oli yang tertinggal pada permukaan komponen tersebut. Jumlahnya tidak cukup dan hanya untuk putaran rendah. Nah, waktu antara menekan pedal gas dan kunci kontak diputar ke posisi “OFF”, waktunya bisa sekitar 15 detik. Kalau mesin bekerja pada 2.500 rpm saja, berarti selama 15 detik berputar 166 kali. Pada tahap pertama atau awal, kebiasaan tersebut memang belum menimbulkan masalah. Namun karena keseringan, keausan mulai terjadi, muncul getaran atau suara mesin kasar. Tingkat keausan komponen bertambah. Selanjutnya, menyebabkan kerja mesin tidak efisien. Malah mesin juga “menelan” oli. Konsumsi bahan bakar boros, tenaga payah, mesin cepat panas dan sebagainya. “Jiwa” mesin ambruk dan tidak bisa lagi hidup.

3. Menyalakan AC Bikin Boros Bensin
Untuk mitos ini ternyata tidak signifikan. Dari pengetesan yang dilakukan oleh pakar memang daya kuda mesin di roda turun saat menghidupkan AC. Namun perbedaan konsumsi bensin sangat kecil. Baik AC dinyalakan, dimatikan maupun disetel pada temperatur moderat

4. Menghidupkan AC Saat Mobil Berjalan Bisa Merusak.
Kita sering mendengar mitos bahwa kompresor akan kaget ketika AC dinyalakan pada saat putaran mesin tinggi. Padahal kenyataannya, magnet pada puli kompresor tetap bisa nonaktif kalau thermostat mendeteksi suhu kabin sudah dingin. Begitu suhu naik, kompresor aktif lagi tanpa peduli mesin pada kondisi rpm berapa.

5. Mengangkat Wiper Saat Parkir Bisa Mencegah Karet Mengeras
Dipicu kondisi cuaca tropis yang panas, disinyalir dapat mempengaruhi kualitas karet wiper (terutama ketika parkir). Meski terkena panas dan tertekan batang, karet wiper tetap punya kelenturan. Pabrikan pun punya hitungan sendiri. Maka, umumnya usia karet sekitar 2 tahun, tanpa perlu diangkat ketika parkir. Malah dengan mengangkat batang wiper, per di dalamnya akan tertarik. Jika terlalu sering, bisa menurunkan kekuatan pernya.

6. Menaruh Aki di Lantai Bisa Menghabiskan Listriknya
Jawabannya tidak. Mitos ini merebak tahun 50-an. Kejadiannya pun bukan pada mobil. Tetapi pada jaringan telepon. Jika tidak dipakai, aki memang akan mengalami discharge. Akan tetapi, aki mobil modern cukup tangguh untuk bisa dipengaruhi lantai, bahkan lantai yang basah sekalipun

7. Kondisi Knalpot Kotor Tanda Oli Terbakar
Bukan hanya sekedar melihat, bahkan pemilik cenderung mencolek ujung kenalpot buat mendeteksi kecurigaan oli terbakar di mesin. Tidak perlu repot berkotor ria, cukup perhatikan asap. Oli terbakar akan menghasilkan asap putih. Tinggal cek kapan terjadinya, apakah saat stasioner atau ketika mobil berjalan dan dapat beban. Kalau stasioner, kemungkinan sil klep rembes. Sedangkan jika putaran tinggi, masalah ada pada ring piston.
8. Tekanan Angin Ban Terlalu Tinggi Bikin Ban Mudah Meletus
Kepercayaan ini tidak benar. Ban bukan balon yang mudah meletus kalau tekanan anginnya terlalu tinggi. Pengaruhnya palinghanya pada kenyamanan. Yang lebih berbahaya, justru kalau ban kurang angin. Dinding ban menjadi tertekuk dan beresiko terkoyak kalau terkena lubang.

9. Menyalakan Hazard Ketika Hujan Lebat
Ini adalah kebiasaan konyol. Alih-alih memberikan sinyal buat mobil sekeliling, malah bikin repot. Kenapa? Karena sein berfungsi sebagai sinyal untuk belok atau bermanuver. Kalau hazard hidup, tidak bisa lagi memberi sinyal belok bukan?

10. Parkir Dengan Roda Dibelokkan Bisa Merusak Power Steering
Hal ini adalah benar dan bisa dijelaskan secara teknis. Dengan kondisi roda membelok, katup pada steering rack membuka. Padahal pada saat start, terjadi tekanan minyak power steering yang cukup tinggi. Tekanan mendadak ini bisa berpengaruh pada sil dan paking yang bisa menyebabkan kebocoran.

11. Melakukan Charging Ponsel di Mobil Tidak Sebaik di Rumah
Charger ponsel mempunyai tenggang tegangan yang bisa mentolerir perbedaan tegangan di mobil. Jadi, tidak masalah. Toh tegangan kelistrikan di mobil selalu terjaga karena alternator masa kini memakai IC sebagai penjaga tegangannya.

12. Mobil Baru Tidak Boleh Diajak Melaju Kencang
Pendapat ini berlaku juga pada mobil lawas. Mesin masa dibuat dengan tingkat presisi tinggi dan bisa langsung digeber sejak masil nol kilometer.

13. Mobil Bertransmisi Otomatis Tidak Bisa Didorong
Mendorong mobil ini dimaksudkan pada saat menghidupkan mobil dalam kondisi darurat. Mesin dengan transmisi otomatis jelas tidak bisa dihidupkan dengan cara ini. Tetapi mobil tetap bisa didorong untuk dipindahkan. Taruh tuas matik pada posisi ”N”. Jika ada shift lock, tekan dulu penguncinya untuk memindahkan dari ”P” ke ”N”.

14. Oli Transmisi Encer Bisa Menambah Tarikan
Secara teori, pelumas dengan kekentalan rendah memang mampu mengurangi hambatan mekanis. Pembuktiannya sudah dilakukan oleh sejumlah tester. Dengan oli transmisi multigrade yang lebih encer terbukti tarikan lebih enak, namun girboks lebih berisik.

15. Kabel busi racing menambah tenaga mesin
Mitos ini tergantung dari jenis kabel businya. Pilih kabel busi yang jelas mereknya untuk mendapatkan kualitas lebih baik. Namun kenaikan performa tidak signifikan, jika sistem pengapiannya tidak ikut diupgrade.

16. Pakai pelek besar bikin boros bensin
Yang satu ini jawabnya adalah BENAR. Dari rangkaian percobaan pada Suzuki APV dengan pelek standar 15 inci dan 17 inci. Lingkar luar ban sama. Sedangkan pelek besar punya tapak lebih lebar dan bobot 3 kg lebih berat per pelek. Hasilnya konsumsi bensin konstan 100 km/jam lebih boros dari 12.5km/liter menjadi 10km/liter.

17. Pasang Alarm Bisa Buat Aki Tekor
Pertanyaan ini kerap terlontar kala pasang alarm. Padahal berdasarkan hitungan, alarm hanya butuh arus 0,06 ampere untuk stand by. Ditinggal seminggu pun tidak akan membuat aki tekor. Hanya saja, harap diingat kalau alarm menyala dan dibiarkan, sirine dan lampu yang aktiflah yang menghabiskan setrum.

18. Mematikan Lampu Saat Macet Bisa Mengirit Setrum
Salah besar kalau menganggap hal ini bisa mengirit setrumdan mencegah aki tekor. Pada saat mobil hidup, aki hanya bertindak sebagai penampung arus. Suplai arusnya disediakan oleh alternator. Sedangkan alternator punya IC regulator untuk membaca besarnya kebutuhan arus.

10 Mitos Lainnya >>>

10 mitos dimaksud.
Mobil harus indreyen.

Ini istilah yang lazim kita dengar. Indreyen dimaksud, yakni proses yang diperlukan mesin agar komponen-komponen di dalamnya bebas dari friksi dan kinerjanya optimal. Karena itu, mobil yang baru dibeli tidak boleh langsung dipakai dengan kecepatan tinggi.
Ini jelas salah kaprah, karena mesin-mesin modern berikut komponennya dibuat dengan presisi tinggi. Bahkan proses optimalisasi kinerja mesin, sudah dilakukan sejak sebelum sebuah mobil masuk ke showroom.
Panaskan mesin di pagi hari.

Dulu, mesin perlu dipanaskan dengan alasan agar diperoleh suhu kinerja yang optimal dan agar pelumasan oli merata ke seluruh komponen.
Sekarang ini, konstruksi mesin dirancang dengan alur oli yang lebih banyak sehingga pelumasan langsung merata begitu mesin dihidupkan. Keunggulan ini juga didukung oleh teknologi produk oli. Rangkaian molekul pada senyawa kimia oli tidak mudah terputus sehingga oli akan tetap melekat pada komponen kendati mesin dalam keadaan mati.
Gas kencang-kencang sebelum mesin dimatikan. Tidak jelas tujuannya apa. Yang pasti, perlakuan ini akan membuang bahan bakar dengan sia-sia.
Mobil Jepang lebih mudah diservis.

Tentu saja bila ukurannya adalah banyaknya workshop atau bengkel mobil-mobil Jepang. Wajar, karena produsen Jepang memang lebih dulu melebarkan sayapnya di Indonesia.
Tapi bila bicara tentang servis mesin, nyaris tak ada lagi perbedaan teknologi mesin Jepang dengan mesin-mesin yang dipakai produk Eropa, Amerika, Korea bahkan China. Semua mesin modern sekarang ini, kinerjanya diatur oleh sistem komputer.
Tune-up dan ganti oli sesuai jarak tempuh (km). Ini sebanarnya sekadar patokan untuk memudahkan.

Tune-up pada mobil modern, hanyalah menyelaraskan kembali kinerja komponen berdasarkan analisis perangkat yang juga bekerja secara computerized. Bila tidak ada komponen bermasalah, maka tune-up tidak diperlukan.
Akan halnya ganti oli, acuan berdasarkan jarak tempuh menjadi bias. Penyebabnya antara lain kemacetan di suatu lokasi dimana mobil tersebut sering digunakan. Interval penggantian oli, tentu berbeda dengan mobil yang relatif tidak pernah mengalami kemacetan. Demikian pula halnya cuaca, kondisi medan, merupakan faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam pengaturan waktu penggantian oli.
Mobil murah BBM-nya juga murah.

Pemahaman ini bahkan sering dimanfaatkan para sales di showroom untuk merayu calon konsumen. Padahal, mobil yang murah tidak otomatis konsumsi BBM-nya cukup yang murah juga.
Mobil murah, terkadang identik dengan mobil yang menggunakan mesin berkapasitas (cc) kecil. Padahal secara teknis, mesin kecil sekarang rata-rata memiliki tenaga besar. Untuk mendapatkan tenaga dimaksud, salah satu upaya produsen mesin yakni menaikkan kompresi pada proses pembakaran.
Sebagai contoh, Kijang Innova lebih mahal dari Avanza. Tapi untuk konsumsi BBM, Innova mungkin cukup memakai Pertamax, sedangkan Avanza lebih ideal kalau pakai Pertamax Plus.
Hal serupa, juga kita temukan misalnya pada Grand Livina bermesin 1.8 liter dengan 1.5 liter. Bila kinerja mesin Grand Livina 1.8 liter masih memadai dengan konsumsi BBM Premium, maka untuk memperoleh performa serupa, Grand Livina 1.5 liter harus menggunakan Pertamax.
Setali tiga wang, juga terjadi misalnya pada produk Honda CRV 2.0 liter dengan yang 2.4 liter. CRV bermesin 2.0 liter, harusnya menggunakan BBM dengan oktan lebih tinggi dibandingkan CRV 2.4 liter.
Mesin besar pasti konsumsi BBM-nya boros.

Logika biasa membenarkan hal itu. Tapi secara teknis, belum tentu karena ada rumusan power to weight ratio atau rasio antara bobot dengan produksi tenaga yang berlaku pada mobil. Bila bobot mobil terlalu berat sementara tenaga yang dihasilkan mesinnya kecil, maka kekurangan itu mutlak dikompensasi dari konsumsi bahan bakar yang lebih banyak.
Mobil matic tidak lincah di tanjakan dan tidak bisa ditarik kalau mogok.

Ini tentu masih mengacu pada pengalaman teknologi transmisi matic zaman dahulu. Sementara transmisi matic sekarang ini memiliki keunggulan jauh dan juga bekerja berdasarkan sistem komputer. Karena itu, kebutuhan torsi pada setiap kecepatan dan beban, akan terus mendapatkan penyesuaian.
Mobil bertransmisi matic pun tetap boleh ditarik bila mogok, dengan memperhatikan syarat penanganannya. Misalnya, kalau mobil dimaksud berpenggerak roda belakang, maka saat proses penarikan, roda belakang harus dalam keadaan bebas (tidak berputar) alias digantung. Demikian pula sebaliknya, bila mobil gerak roda depan sebaiknya roda depan tidak menyentuh permukaan jalan.
Bagaimana dengan mobil berpenggerak empat roda (AWD atau 4WD)? Solusi terbaik, memang sebaiknya dengan menaikkan ke mobil gendong. Lagi pula, menarik mobil yang mesinnya mati menggunakan tali, tentu sangat berbahaya mengingat rem dan kemudi tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Mobil Eropa unggul aspek keamanan dan keselamatannya.

Ini pemahaman yang tidak lagi benar. Pasalnya, mobil-mobil modern sekarang dilengkapi fitur keamanan dan keselamatan standar yang nyaris sama. Kalau ada perbedaan, lebih karena alokasi penjualan produk dimaksud pada suatu negara yang belum mementingkan tingkat keselamatan yang tinggi.
Memang, ada juga beberapa fitur keselamatan yang menjadi ciri khas sebuah produk, namun prinsip kerjanya dengan fitur keselamatan di produk lain sebenarnya sama. Perbedaan, biasanya pada soal penamaan. Jadi, jangan terkecoh.
Mobil kaleng kerupuk, wajar jika harganya murah.

Ada istilah kaleng kerupuk, tentu karena kita sering melihat sebuah mobil yang terlibat tabrakan ringsek tidak berbentuk. Kondisi kasat mata itu, meninggalkan kesan bahwa mobil dimaksud tentulah buruk aspek safety-nya.
Sekarang ini, banyak produk mobil, terutama dari Eropa yang beberapa komponennya tidak lagi dibikin dari bahan logam. Misalnya di bagian bumper dan bonnet (tutup kap mesin). Tapi tidak lantas karena bahan yang digunakan yang tentu lebih lunak dari logam, mobil dimaksud memiiki tingkat keamanan yang rendah.
Teknologi crumple zone, justru menuntut pemakaian bahan yang lunak, rapuh dan mudah remuk bila terjadi tabrakan. Tujuannya tak lain, agar energi dari benturan yang terjadi bisa terserap atau diredam sehingga impact-nya menjadi kecil pada penumpang.
Bila dilihat dari rancang bangun, sebuah mobil dibangun dalam tiga bagian utama (three boxes). Bagian depan dan belakang, dibuat rapuh dan mudah remuk untuk tujuan peredaman. Sedangkan bagian tengah yang berisi penumpang, dirancang dengan konstruksi yang kuat.
Ironisnya, beberapa pemilik mobil, khsusnya dari jenis MPV yang justru menambahkan aksesori berupa bumper dati bahan besi. Maksudnya, tentu agar bagian belakang atau depan mobilnya tidak remuk bila bertabrakan dengan mobil lain. Jelas, ini sebuah kekeliruan. Karena batang besi yang dipasang, justru mencegah crumple zone bekerja. Energi benturan tidak lagi terserap sehingga menghasilkan impact yang besar dan meningkatkan potensi cedera pada penumpang.
Jadi, mobil yang sosoknya remuk dan kita sebut kaleng kerupuk, sesungguhnya bisa lebih aman. Industri otomotif yang mengaplikasi standar keselamatan tinggi pada produknya, justru tidak lagi memakai kaleng. Tapi, boleh jadi mengaplikasi kerupuk kulit.
Share this article :

+ komentar + 1 komentar

6 Juni 2016 19.07

harus ada batasan antara mobil jadul dan mobil modern, agar tips ini bisa dipakai spt sy yg awam ttg mobil.

Posting Komentar

Lowongan Kerja Blue Bird Group KLIK Gambar di Bawah !

Blue Bird Group

Order Taksi Blue Bird Semarang (024) 670 1234

Blue Bird Group
 
Support : Creating Website | Rnu Template | Rnu Template
Copyright © 2011. Jual Mobil Ex Taksi Blue Bird - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Rnu Template
Proudly powered by Blogger